Langit menjingga menggantung di atas FairyFlix Agency, sebuah menara kaca setinggi tiga lantai yang berdiri di antara hutan dongeng yang kini sudah dipasangi WiFi dan solar panel. Di pintu masuk, logo neon menyala: seekor bunglon memeluk simbol hashtag berwarna pelangi.
Di dalam ruang brainstorming lantai dua, Bunglon berdiri di depan whiteboard digital. Kulitnya berubah-ubah warna sesuai dengan tone lampu ruangan—kadang biru neon, kadang pastel pink. Matanya fokus, lidahnya sedikit menjulur ke samping—tanda dia lagi mikir keras.
“Gue bukan ikut-ikutan. Gue nyesuaiin. Adaptasi itu skill, bukan krisis identitas,” gumamnya sambil mencoret-coret data engagement di papan.
📊📱✨
Tiba-tiba pintu terbuka. Kelinci masuk dengan kecepatan angin, mengenakan hoodie hypebeast dengan logo karrot terbalik. Earbuds-nya masih menyala lagu EDM.
“Brooo! Feed gue stuck. Reach turun. Padahal gue baru nge-dance challenge semalam!”
Bunglon tidak langsung menjawab. Dia melirik ke arah grafik dan kemudian menoleh, ekornya menggeliat pelan.
“Lu terlalu cepat, kel. Followers lu belum sempat relate, udah pindah topik.”
“Lah! Algoritma dong salahnya!”
“Nope. Lu harus kasih napas ke audience. Engagement bukan sprint, ini maraton kreatif.” 🐢💡
Kelinci terdiam. Jarang-jarang dia kalah adu argumen. Dia duduk di bean bag dengan warna peach, matanya berkedip cepat.
Di saat yang sama, lift berdering. Muncul Putri Tidur, mengenakan dress satin dusty rose dengan selendang hologram yang berganti warna kalau terkena cahaya. Dia menatap layar ponsel seperti baru bangun dari tidur panjang—karena memang iya.
“Hi… Bunglon, I need help. I feel… invisible.”
“Udah berapa lama nggak update?” tanya Bunglon sambil menyambutnya.
“Tiga abad. But who’s counting?” katanya dengan senyum lelah.
💤🌹📵
Bunglon menarik napas panjang.
“Kita mulai dari voice. Lo bukan sekadar estetik. Lo punya cerita. Kita jual rasa nostalgia yang dibungkus konten sinematik. Tapi jangan terlalu berat. Bikin satu konten: lo bangun dari tidur, terus buka TikTok.”
“Dan?”
“Terus lo shock karena ternyata semua orang pakai slang aneh dan lo cuma ngerti 20%. That’s your hook. Masukin sound viral, kasih caption: ‘Just woke up and everyone’s speaking spells now.’”
Aurora tertawa pelan, matanya berbinar.
Sementara mereka brainstorming, dari pojok ruangan terdengar suara sendu.
“Bunglon… Gue pengen jujur, tapi kok susah ya…”
Itu suara
Pinokio. Ia duduk dengan kaki tergantung dari meja, tangannya memegang ponsel sambil menatap layar galau. Hidungnya nyaris memanjang.
“Gue mau bikin konten self-love, tapi jadi kayak semua orang. Gue takut dibilang fake…”
🎭🪵💔
Bunglon menghampiri, meletakkan tangan bersisiknya di bahu kayu itu.
“Lu asli, Nok. Lu nggak perlu bilang ‘gue jujur’, cukup jadi jujur. Jangan terlalu ngikutin tren. Lu punya cerita—jadi boneka yang pengen jadi manusia itu relatable banget, trust me. Tapi kemas dengan format yang ringan. Lu bisa mulai dengan konten: ‘5 hal yang nggak gue ngerti dari manusia, nomor 3 bikin gue deg-degan.’”
Pinokio menatap Bunglon seolah melihat pelangi dalam gua gelap.
“Anjir. Itu lucu banget.”
🌈📹😮
Hari itu, ruang FairyFlix dipenuhi layar yang menyala, suara-suara edit video, dan tawa. Di tengah semua itu, Bunglon berdiri tenang, matanya menatap ke arah jendela.
Kulitnya berganti warna lagi—kali ini jadi campuran hijau mint dan coral. Warna harapan dan adaptasi.
“Gue bukan bingung. Gue berevolusi. Dunia berubah, dan gue jalan bareng dia.”
Di layar Pinokio, reels pertama tayang. Di feed Putri Tidur, likes mengalir. Di stories Kelinci, followers mulai komentar: “Akhirnya lo slow down juga, kel.”
Di satu sudut ruangan, seekor naga berbisik ke unicorn, “Si Bunglon emang beda.”
Dan unicorn mengangguk, “Dia nggak ngilangin warna dia. Dia cuma tahu kapan warna mana yang harus ditunjukin.”
🌟💬🎨
Komentar
Posting Komentar